UNGKAPKAN KEINGINANMU



Suatu hari saya berkeinginan sekali naik pesawat. Sejak kecil, tidak pernah sekalipun bisa naik pesawat karena selain tidak ada keperluan yang mengharuskan naik pesawat juga karena tidak ada biaya untuk bisa naik pesawat. Semua orang terdekatku tahu bahwa aku sangat ingin naik pesawat. Mereka sering melihatku memperhatikan pesawat yang sedang melintas di langit. Dan ternyata di usia 22 tahun keinginan itu tercapai. Aku bisa naik pesawat secara gratis dengan ruter Jogja-Jakarta-Padang.
Tuesday, November 7, 2017

BEKERJALAH DENGAN SIP !


Tulisan ini mungkin ada kemiripan dengan tulisan saya beberapa waktu lalu yang berjudul “Jangan pernah merasa sendiri”. Ada orang yang bekerja karena merasa diawasi, patuh ketika ada yang mengawasi. Sementara ketika dia merasa tidak ada yang mengawasi, dia “nyelewong” dalam istilah Jawa, artinya kurang lebih menyimpang. Biasanya mereka akan melirik, toleh kanan kiri dan mengatakan “Si bos lagi nggak ada kan?”, atau “Asik, mumpung nggak ad abos kita bisa nyantai”.
Thursday, November 2, 2017
Tag :

NASIHAT UNTUK ANAKKU (PART 1)


MANUSIA, ANTARA PENILAIAN DAN HARAPAN

Nak, di dunia ini mungkin kita sering kali ketika akan melakukan sesuatu atau sebaliknya, kita terpaku pada penilaian. Tidak ada salahnya, bahkan sah-sah saja. Hanya saja, penilaian siapakah yang kita jadikan acuan? Pun begitu pada yang namanya harapan. Kita melakukan sesuatu atau tidak melakukannya karena bergantung pada harapan. Tidak masalah juga, hanya saja, sekali lagi, pada siapakah harapan itu kita gantungkan?

Nak, kamu harus tahu, bahwa ternyata, hatta orang yang kita anggap paling dekat dengan kita pun tidak layak jika penilaian dan harapan kita letakkan pada dia. Masalahnya apa? Orang terdekat kita, katakanlah dia pasangan kita, orang tua kita, atau anak kita, mereka adalah manusia biasa.

Penilaian

Penilaian yang utama adalah dari Tuhan kita, yaitu Allah SWT. Dialah yang paling berhak menilai kita. Hal ini karena bahkan terhadap pasangan kita pun, masih ada yang bisa kita sembunyikan darinya. Sedangkan terhadap Allah? Mana mungkin ada yang luput dari pandangan-Nya? Lagi pula, percuma saja kita mengharapkan penilaian manusia, kalau ternyata mereka tidak menggunakan rambu-rambu yang Allah berikan sebagai bahan penilaiannya.

Nah, bagaimana melihat penilaian Allah? Bacalah Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi-Nya, bacalah keterangan para ulama, nanti kamu akan tahu bagaimana Allah menilai sesuatu. Baikkah itu? Burukkah itu? Lihatlah, bacalah dari dua pedoman yang sudah ditinggalkan oleh Nabi kita.
Nak, jangan sekali-kali menilai sesuatu hanya karena hawa nafsu atau egomu. Karena itu akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Jangan pula menilai sesuatu itu baik dan buruk hanya karena banyak orang di sekitarmu yang mengatakan baik atau buruknya sesuatu itu. Coba berfikirlah yang jernih. Sekali lagi, lakukanlah sesuatu karena menurutmu Allah dan Rasul-Nya menyukai apa yang kamu lakukan itu. Dan jangan lakukan sesuatu, sekiranya hal itu hanya akan membuat Allah dan Rasul-Nya benci dan kecewa.

Satu lagi, sebaik apapun kita, meski kita sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan, tidak akan pernah penilaian orang lain terhadap kita itu satu kata. Pasti ada saja yang memuji kita, dan ada saja yang mencela bahkan membenci kita. Itu sudah biasa. Tidak usah kaget. Biar Allah yang menilai. Yang penting lakukan yang terbaik, semampu kita.

Harapan

Kita pasti pernah kecewa pada manusia. Kamu juga nak? Mungkin pada ibumu ini. Kenapa? Karena kita meletakkan harapan pada tempat yang salah. Nak, manusia itu tempatnya lupa dan salah. Manusia bukanlah malaikat, apalagi Tuhan. Yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu hanyalah Allah, Tuhanmu, Penjaminmu, dunia dan akhirat.

Jika kita berharap pada manusia, lalu ketika manusia itu tidak mampu memenuhi harapan kita, apa yang terjadi? Ya, kecewa. Tidak perlu kecewa ataupun marah jika manusia tidak melakukan seperti yang kita inginkan. Maklumi saja. Baik itu temanmu, pasanganmu kelak, muridmu, gurumu, atasanmu, bawahanmu. Mereka itu manusia biasa. Mereka bukanlah pemenuh harapan-harapanmu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan, lalu gantungkan harapan hanya kepada Allah.

Lakukan yang terbaik, dan terus lakukan yang terbaik. Barang siapa menjalani sesuatu maka ia akan sampai pada sesuatu itu. Suatu saat kamu akan melihat hikmahnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, kelak, jika ibu tidak sempat menasihatimu secara langsung.

Gresik, 18 Oktober 2017

Saat usiamu di dalam kandungan ibu menginjak 31 minggu lebih 2 hari :)
Wednesday, October 18, 2017

MENIKAH


Setelah lama saya tidak memposting apapun di blog ini, akhirnya saya sadar juga, bahwa tugas sebagai seorang penulis telah terabaikan. Mungkin tidak ada yang rugi kecuali saya sendiri, tapi tetap saja saya merasa berdosa. Sebagai orang yang sempat menggoreskan tulisan-tulisannya. Sebagai orang yang terlanjur ada yang telah membaca hasil karyanya, maka rasa berdosa itu tidak bisa saya pungkiri. Saya merasa berdosa telah lama membiarkan keinginan menulis hanya sekedar keinginan yang menguap oleh waktu.

Baiklah, dalam postingan ini saya ingin bercerita tentang "Menikah". Mungkin ada yang belum tahu ya bahwa saya sudah menikah. Ya, saya telah menikah dengan seseorang yang saya cintai dan dia mencintai saya, dan beliau yang beruntung itu bernama lengkap Hudzaifaturrohman ☺
Kami menikah tepatnya pada tanggal 16 Juli 2016, bertepatan dengan hari Sabtu. Namun di akta nikah kami menikah pada tanggal 18 Juli 2016. Tidak apalah, itu hanya masalah teknis.
Kami menikah secara sederhana, dengan biaya yang sederhana pula. Namun yang spesial adalah ketika semua orang yang kami cintai bisa menyaksikan pernikahan kami.

Apa yang ingin saya sampaikan bukanlah soal teknis pernikahan kami, tapi tentang apa yang kita hadapi setelah menikah. Benar kata banyak orang bijak, bahwa menikah itu tidak seindah yang dibayangkan pada saat sebelum menikah. Bahwa yang terjadi bukanlah bunga-bunga indah nan wangi menghiasi hari-hari kita. Ada juga batu, ada juga duri, ada juga sampah-sampah tak berguna berserakan menghiasi pernikahan. Bahwa rayuan dan canda tawa tidak selalu ada di tiap hari kita, ada juga kata-kata kasar, keluh kesah yang berlebihan bahkan sampai kadang terbersit benci. Mungkin bukan benci dengan pasangan kita, tapi benci pada sifat yang belum bisa kita terima di hati yang masih kecil ini.

Menikah, sekali lagi bukanlah mudah. Tapi aku tidak pernah menyesal bahwa aku sudah menikah. Aku juga tidak menyesal telah menikah dengannya, orang yang aku yakin bahwa aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Aku hanya menyesalkan mengapa hatiku tidak seluas harapanku. Bukankah kita sepakat bahwa semakin besar harapan yang kita bangun, semakin besar pula hati yang harus kita siapkan untuk menghadapi kekecewaan? Aku hanya menyesalkan mengapa ilmuku masih sangat sedikit tentang pernikahan, dan mengapa aku tidak bersiap mendewasakan diri dan membuang jauh ego-ego tidak penting.

Menikah itu, kalau kata temanku adalah "seni mengalah", dimana akan banyak hal-hal berseberangan antara keinginanku dengan keinginannya. Dimana akan sering terjadi perbedaan persepsi terkait suatu masalah antara aku dan dia. Dan itu nyata.

Tapi setelah kamu merenungkan pernikahanmu, maka kamu akan sadar, banyak hal telah kamu lewati bersamanya, dan mungkin kamu akan menyesal jika kamu belum menikah sampai sekarang. Yang pasti, dia yang menjadi pasangan sahmu saat ini adalah orang yang telah Allah pilihkan untukmu. Dia bagaimanapun, adalah ujian yang tepat bagimu, sedangkan kamu, adalah ujian yang tepat untuknya.

Yang pasti, menikah adalah sunnah Nabi kita, Muhammad SAW. Menikah itu menantang. Menikah itu kebahagiaan. Tidak hanya di awal-awal pernikahan. Menikah itu membuat kita lebih dewasa. Menikah itu membuat kita lebih bisa mengerti orang lain. Menikah itu berbagi. Menikah itu sedekah. Menikah itu mengasihani. Menikah juga pengorbanan. Menikah itu merayu, kadang dirayu. Menikah itu membuat rejeki berlipat. Menikah itu berjuta rasa. Tentu saja bukan hanya yang indah dan menyenangkan saja yang ada dalam pernikahan. Hanya saja, coba kita berfikir sedikit lebih arif menilai pernikahan.

Mungkin sebagian orang menganggap, "halah, menikah ya wajar ada enak dan nggak enaknya, ngapain dibahas, semua orang juga akan tahu jika sudah menikah". Tapi saya memilih untuk merenungkannya daripada abai. Bukankah semua yang terjadi baik pada diri kita ataupun pada orang lain adalah layak dijadikan ibrah? :)

Mungkin itu yang bisa saya share kali ini. Oh iya, sekarang saya sedang mengandung. Mohon doanya para pembaca semua. Tulisan tentang hal-hal menarik seputar kehamilan saya akan saya share di postingan berikutnya, insyaallah. :)

Btw, pernikahan saya tergolong ekonomis, yang pasti biaya pelaminan plus sewa baju pengantin plus make up plus kamera totalnya di bawah 4jt. Padahal bunga-bunga yang dijadikan hiasan pelaminan semuanya bunga segar lho, alias nggak ada bunga plastiknya, apalagi bunga bank :D
Nah, kalau ada yang mau tanya-tanya bagaimana tips nikah mudah, murah dan berkah, boleh komentar atau inbox fb saya :)


Spemdalas, 13 Oktober 2017
Thursday, October 12, 2017

ALHAMDULILLAH


Masih di suasana kelas kami di ruangan Al-Juwaini di gedung IRK lantai 3 di jam yang sama, kali ini kami membahas tentang “Alhamdulillah”. Saat itu kami sudah berpindah membahas tafsir ilmi, tafsinya syeikh Thonthowi Jauhari. Perlu diketahui ustadz kami, Ustadz Radwan Jamal adalah orang yang sangat sering menyapa muridnya dan menanyakan kabar, sekalipun kami sedang di pertengahan kelas. Di awal pertemuan pasti beliau Tanya kabar, paling tidak secara umum “Kayfa haalukum?”. Bahkan kadang beliau Tanya satu persatu tentang kabar kami. dan tentu saja dengan raut wajah beliau yang penuh semangat dan senyum mengembang. Subhanallah…
Wednesday, November 23, 2016

JALAN YANG LURUS


Tulisan ini masih dari hasil diskusi di kelas, tentunya dari penjelasan ustadz Radwan Jamal Al-Atrasy. Tentang doa yang selalu kita ucap setiap harinya. Doa yang paling awal di dalam Al-Qur’an. Doa yang sangat-sangat kita butuh untuk kita ucapkan, yakni doa:
 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦
“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Fatihah:6)

ILMU LADUNI


Pernah mendengar kata laduni? Iya biasanya disandarkan menjadi sebuah frase “ilmu laduni”, sederhananya ilmu yang dating dari Allah. Tulisan ini berawal dari diskusi yang sangat menarik di kelas kami “Manahijul Mufassirin” yang dibimbing oleh ustadz Radwan Jamal Al-Atrasy. Beliau adalah dosen kami di bidang ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, beliau berasal dari Palestina. Subhanallah.. Allahu Akbar. Kenapa aku tiba-tiba menulis kalimat takbir dan tasbih? Karena ketika mengingat beliau, kalimat yang sering beliau katakana ketika takjub adalah tasbih dan takbir. Jadi refleks aja barusan. :)

- Copyright © Man Jadda Wajada -